BANYUWANGI – Perkembangan teknologi, khususnya kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), menuntut generasi muda untuk terus meningkatkan kompetensi dan kemampuan berpikir kritis.
Pesan itu disampaikan Kepala Lembaga Administrasi Negara (LAN) RI, Dr. Muhammad Taufiq, DEA, saat menjadi pembicara dalam Kuliah Umum Nasional di Universitas Islam Cordoba (UI Cordoba) Banyuwangi, Jumat (3/7/2026).
Kuliah umum bertema “Menjadi Generasi Pembelajar Sepanjang Hayat: Kepemimpinan, Pelayanan Publik, dan Masa Depan Indonesia di Era Digital” tersebut diikuti ratusan mahasiswa, dosen, dan tamu undangan.
Hadir pula Pembina Yayasan UI Cordoba sekaligus Menteri PANRB periode 2022–2024 Abdullah Azwar Anas, Ketua Yayasan UI Cordoba, jajaran pimpinan universitas, Ketua Lakpesdam PCNU Banyuwangi, serta perwakilan organisasi perangkat daerah di Banyuwangi.
Dalam paparannya, Muhammad Taufiq menegaskan bahwa perubahan yang dipicu perkembangan teknologi berlangsung sangat cepat. Karena itu, semangat belajar tidak boleh berhenti setelah seseorang menyelesaikan pendidikan formal.
“Perubahan hari ini bergerak sangat cepat. Karena itu, semangat belajar tidak boleh berhenti ketika seseorang lulus dari bangku kuliah. Justru di situlah proses belajar yang sesungguhnya dimulai. Teruslah memperdalam ilmu, menguatkan daya analisis, dan jangan pernah merasa cukup dengan pengetahuan yang dimiliki,” tegas Taufiq.
Menurutnya, kemampuan analisis dan penguasaan ilmu menjadi pembeda di tengah derasnya arus informasi. Ia juga mengingatkan pentingnya menghargai kompetensi setiap profesi sebagai fondasi dalam pengambilan keputusan.
“Tidak ada yang lebih memahami pendidikan selain guru, sebagaimana tidak ada yang lebih memahami kesehatan selain dokter. Maka, setiap profesi harus terus memperkuat kompetensinya agar mampu memberikan manfaat terbaik bagi masyarakat,” ungkapnya.
Dalam kesempatan itu, Taufiq juga menyoroti pesatnya perkembangan AI yang kini telah masuk ke berbagai sektor, mulai pendidikan, pemerintahan hingga pelayanan publik.
Ia menilai teknologi tersebut harus dimanfaatkan sebagai alat untuk meningkatkan kualitas pelayanan, bukan dipandang sebagai ancaman.
“Artificial Intelligence mampu membantu manusia bekerja lebih cepat, tetapi AI tidak dapat menggantikan integritas, kebijaksanaan, empati, dan nilai-nilai kemanusiaan. Karena itu, jangan hanya belajar menggunakan teknologi, tetapi juga bangun karakter yang membuat teknologi digunakan untuk kemaslahatan,” pesannya.
Pemaparan tersebut disambut antusias peserta. Sejumlah mahasiswa memanfaatkan sesi diskusi untuk mengajukan pertanyaan seputar transformasi birokrasi, penerapan AI dalam pelayanan publik, hingga kompetensi yang dibutuhkan agar mampu bersaing di era digital.
Rektor Universitas Islam Cordoba, Prof. Dr. Agus Trihartono, S.Sos., M.A., Ph.D., mengatakan kuliah umum tersebut merupakan bagian dari upaya kampus menghadirkan wawasan kebangsaan dan kepemimpinan kepada mahasiswa melalui dialog langsung dengan para pemimpin nasional.
“Kampus harus menjadi ruang lahirnya pemimpin masa depan yang mampu berpikir kritis, adaptif terhadap perubahan, dan memiliki kepedulian terhadap masyarakat. Kehadiran para pemimpin nasional di lingkungan kampus merupakan bagian dari ikhtiar kami untuk memperluas wawasan mahasiswa sekaligus menghubungkan dunia akademik dengan realitas kebijakan publik,” dawuh beliau dalam sambutannya. (*)

